Semarang | MitraBhayangkara.my.id — Di tengah derasnya arus informasi digital yang dapat membentuk cara berpikir dan perilaku generasi muda, literasi, karakter, serta kemampuan menyaring informasi menjadi tantangan penting bagi dunia pendidikan. Pesan itu mengemuka saat Kapolres Semarang AKBP Heru Dwi Purnomo, S.I.K., M.Si., membuka peringatan Bulan Bahasa di SMAN 1 Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (19/10/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Larastra” atau Lestarikan Ragam Sastra dan Tradisi Nusantara tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan bahasa dan kebudayaan Indonesia. Dalam amanatnya, Kapolres juga mengingatkan para pelajar agar membangun karakter, memperluas pengetahuan, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.
Kehadiran Kapolres Semarang disambut Kepala SMAN 1 Ungaran, Eny Sofiana, S.S., M.Si. Kapolres turut didampingi Wakapolres Semarang dan Kapolsek Ungaran Barat.
Literasi Digital Menjadi Tantangan Generasi Muda
Dalam arahannya, AKBP Heru menekankan bahwa generasi muda perlu mempersiapkan diri dengan pengetahuan, kedisiplinan, dan perilaku positif agar mampu menghadapi perubahan zaman sekaligus berkontribusi bagi bangsa dan negara.
“Para siswa merupakan generasi penerus dan harapan bangsa. Karena itu, siapkan diri dengan pengetahuan, disiplin dan perilaku yang baik. Jadilah generasi muda yang unggul serta mampu memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara,” ujar AKBP Heru.
Pesan tersebut menjadi relevan ketika media sosial telah menjadi salah satu ruang utama bagi generasi muda untuk memperoleh informasi, berkomunikasi, dan mengekspresikan diri.
Namun, derasnya arus informasi juga menuntut kemampuan berpikir kritis. Informasi yang belum terverifikasi dapat menyesatkan, memicu kesalahpahaman, bahkan menimbulkan konflik apabila langsung dipercaya dan disebarluaskan.
Karena itu, Kapolres mengingatkan para siswa agar tidak mudah terprovokasi oleh kabar yang belum diketahui kebenarannya.
“Gunakan media sosial untuk menambah wawasan dan menyebarkan kebaikan. Jangan mudah terprovokasi berita hoaks. Saring sebelum sharing dan jadilah pelopor dalam melawan informasi yang tidak benar,” pesannya.
Imbauan tersebut menegaskan bahwa kecakapan digital tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi. Pelajar juga perlu memahami sumber informasi, memeriksa kebenaran isi pemberitaan, serta mempertimbangkan dampak sebelum membagikan suatu konten.
Tawuran, Narkoba, dan Bullying Jadi Perhatian
Selain mengingatkan tentang bahaya hoaks, Kapolres Semarang juga mengajak para pelajar menjauhi perilaku yang berpotensi merusak masa depan, termasuk tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan perundungan atau bullying.
Menurutnya, masa sekolah perlu dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan positif, meningkatkan prestasi, mengembangkan kreativitas, serta memperluas pergaulan yang sehat.
“Jangan kotori masa depan dengan tawuran, narkoba maupun bullying. Jadilah pelajar yang disiplin, berprestasi, penuh inovasi dan bijak dalam pergaulan,” tegasnya.
Pesan tersebut menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Keberhasilan seorang pelajar tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademik, tetapi juga oleh kemampuan menghargai orang lain, mengendalikan diri, menaati aturan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Kapolres juga mengajak para siswa menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas dengan mematuhi peraturan dan membiasakan perilaku tertib di jalan raya.
Kepada para guru, ia berpesan agar terus memberikan bimbingan dan pendampingan sehingga peserta didik dapat tumbuh menjadi generasi yang kompeten, berkarakter, dan berakhlak mulia.
Larastra dan Tantangan Melestarikan Budaya Nusantara
Tema “Larastra” membawa perhatian pada pentingnya melestarikan ragam sastra dan tradisi Nusantara di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi masyarakat.
Bahasa bukan sekadar sarana menyampaikan pesan. Bahasa juga menjadi bagian dari identitas, kebudayaan, dan warisan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Upaya mengenalkan sastra dan tradisi kepada pelajar menjadi salah satu cara untuk menjaga agar kekayaan budaya Indonesia tetap dikenal dan dihargai oleh generasi muda.
Di sisi lain, perkembangan teknologi membuka peluang untuk memperluas jangkauan pelestarian budaya. Karya sastra, bahasa daerah, cerita rakyat, dan tradisi lokal dapat diperkenalkan melalui berbagai platform digital.
Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa mengabaikan ketepatan informasi, kualitas bahasa, dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya.
Dalam konteks tersebut, peringatan Bulan Bahasa dapat menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan terhadap bahasa Indonesia sekaligus mengenalkan keragaman bahasa dan tradisi daerah.
Meski demikian, dampak kegiatan semacam ini tidak cukup diukur dari pelaksanaan seremoni. Keberlanjutan kegiatan literasi, keterlibatan aktif siswa, serta penerapan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi aspek penting untuk diperhatikan.
Kapolres: Masa Depan Dipersiapkan Sejak Sekarang
Menutup amanatnya, AKBP Heru mengingatkan para siswa agar memanfaatkan masa sekolah sebaik-baiknya karena kesempatan belajar dan membangun kebiasaan positif merupakan bekal penting untuk menghadapi masa depan.
“Masa depanmu ditentukan hari ini. Masa ini tidak pernah bisa kamu ulangi. Siapkan masa depanmu mulai saat ini,” tutupnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelepasan merpati dan balon bersama para siswa yang hadir. Prosesi tersebut menjadi simbol harapan dan cita-cita generasi muda agar dapat tumbuh, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Peringatan Bulan Bahasa di SMAN 1 Ungaran pun membawa pesan yang lebih luas: pelajar diharapkan tidak hanya mampu menguasai perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki karakter, kecakapan menyaring informasi, serta kepedulian terhadap bahasa dan kebudayaan bangsa.
Pewarta: 75




