AMBARAWA, KABUPATEN SEMARANG | MitraBhayangkara.my.id — Tembok bersejarah Benteng Fort Willem I Ambarawa berubah menjadi ruang edukasi lalu lintas. Bukan melalui baliho atau papan imbauan, melainkan lewat sapuan cat dan kreativitas 10 seniman Komunitas Hanoman Art dalam rangka memperingati HUT Polantas Bhayangkara ke-71.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, Senin–Rabu (14–16 September 2026), tersebut mempertemukan dua dunia yang selama ini berjalan dalam ruang berbeda: kepolisian dan seni. Pesan keselamatan berlalu lintas diterjemahkan menjadi karya visual yang dapat dilihat masyarakat ketika berkunjung ke kawasan wisata sejarah tersebut.
Bagi Polres Semarang, mural bukan sekadar dekorasi. Karya itu diposisikan sebagai media komunikasi publik—menyampaikan pesan tertib berlalu lintas sekaligus memperkenalkan tugas dan pelayanan Polisi Lalu Lintas kepada masyarakat.
Kapolres Semarang AKBP Heru Dwi Purnomo, S.I.K., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian HUT Polantas Bhayangkara ke-71 yang sengaja dikemas dengan pendekatan kreatif.
“Kami berharap melalui karya seni mural ini dapat menjadi salah satu wadah edukasi bagi masyarakat untuk semakin tertib dalam berlalu lintas, sehingga pada akhirnya dapat membantu menekan angka kecelakaan lalu lintas di jalan,” ujar Heru.
Ketika Edukasi Lalu Lintas Masuk ke Ruang Seni
Pendekatan melalui seni menjadi bagian menarik dari kegiatan tersebut. Pesan keselamatan lalu lintas yang biasanya hadir dalam bentuk spanduk, rambu, kampanye atau penyuluhan, kali ini ditempatkan dalam medium yang lebih visual.
Menurut Kapolres, pesan keselamatan akan lebih mudah diterima apabila dikemas secara kreatif dan menarik.
Mural tersebut juga dirancang untuk menggambarkan aktivitas serta pelayanan Polisi Lalu Lintas kepada masyarakat.
“Selain mengedukasi tentang tertib berlalu lintas, mural ini juga memberikan gambaran mengenai tugas-tugas Polisi Lalu Lintas dalam melayani masyarakat sehari-hari. Jadi, ada pesan keselamatan sekaligus gambaran tentang pelayanan Polantas kepada masyarakat,” jelasnya.
Dari perspektif komunikasi publik, pemilihan mural memiliki konsekuensi tersendiri. Karya visual yang berada di ruang publik memungkinkan pesan tidak hanya dibaca sekali seperti sebuah poster, tetapi berpotensi menjadi bagian dari pengalaman pengunjung.
10 Seniman Hanoman Art Dilibatkan
Sebanyak 10 seniman Komunitas Hanoman Art dari berbagai wilayah Jawa Tengah dilibatkan dalam proses pengerjaan mural.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena Hanoman Art bukan komunitas yang baru berkegiatan di kawasan Ambarawa. Pada 2025, komunitas tersebut terlibat dalam sejumlah kegiatan seni yang mengangkat sejarah, budaya dan identitas Ambarawa. Salah satu agenda yang diberitakan sebelumnya adalah Painting On The Spot yang mengangkat berbagai objek heritage, termasuk Benteng Willem I.
Jejak tersebut memperlihatkan bahwa seni memang telah digunakan sebagai salah satu medium untuk memperkenalkan kekayaan sejarah Ambarawa kepada masyarakat.
Kali ini, pendekatan yang sama diarahkan untuk membawa pesan keselamatan berlalu lintas.
Kapolres menjelaskan bahwa gagasan dari kepolisian kemudian dipadukan dengan kreativitas para seniman.
“Acara ini terselenggara berkat kolaborasi bersama para seniman Hanoman Art. Gagasan yang kami punya dan ide seni yang sudah digagas para seniman bisa dipadukan dalam mural ini. Kami ingin pesan yang disampaikan tidak hanya sekadar tulisan, tetapi bisa menjadi karya yang menarik dan memiliki makna,” ungkapnya.
Benteng Bersejarah Menjadi Ruang Edukasi
Pemilihan Fort Willem I sebagai lokasi kegiatan juga memiliki dimensi lain.
Benteng yang dikenal masyarakat sebagai Benteng Pendem tersebut merupakan salah satu kawasan heritage di Ambarawa. Dalam sejumlah kegiatan sebelumnya, lokasi ini juga digunakan sebagai ruang kegiatan budaya dan wisata edukasi. Pada Januari 2026, misalnya, kawasan Fort Willem I diberitakan menjadi lokasi atraksi budaya berupa Sendratari “Babad Fort Willem I”.
Bahkan, agenda pemerintah daerah pada 2026 mencatat kegiatan seni budaya tersebut sebagai salah satu agenda di kawasan Benteng Willem I.
Karena itu, penggunaan kawasan heritage sebagai lokasi mural lalu lintas membuat kegiatan tersebut memiliki dua lapisan pesan: pelestarian dan edukasi.
“Kenapa kegiatan dilaksanakan di Benteng, tentunya akan memberikan pemahaman sekaligus edukasi kepada para pengunjung di lokasi wisata ini. Harapannya, masyarakat yang datang tidak hanya menikmati tempatnya, tetapi juga mendapatkan pesan tentang keselamatan berlalu lintas,” kata Heru.
Bukan Sekadar Mempercantik Kawasan
Manager Operasional Benteng Fort Willem I Ambarawa, Harmun Fasil, menyambut kegiatan tersebut.
Menurutnya, mural edukasi lalu lintas sejalan dengan fungsi kawasan sebagai lokasi wisata edukasi yang terbuka untuk masyarakat.
“Kami mengapresiasi kegiatan yang digagas Polres Semarang dalam rangka HUT Polantas Bhayangkara ke-71. Benteng Fort Willem I ini merupakan lokasi wisata edukasi tentang sejarah dan terbuka untuk umum,” ujar Harmun.
Ia menilai kolaborasi antara aparat kepolisian dan komunitas seni dapat memperluas fungsi edukasi kawasan.
“Ini sejalan dengan peran Benteng Fort Willem I yang terbuka untuk umum sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk edukasi tentang tertib berlalu lintas,” pungkasnya.
Mengukur Efektivitas Pesan
Namun, pertanyaan yang lebih jauh adalah apakah mural mampu mengubah perilaku pengguna jalan?
Karya seni dapat menjadi sarana komunikasi publik, tetapi dampak terhadap keselamatan lalu lintas tetap membutuhkan dukungan berbagai bentuk edukasi, penegakan hukum, rekayasa lalu lintas, kondisi jalan, kepatuhan pengguna kendaraan serta faktor keselamatan lainnya.
Karena itu, mural di Benteng Fort Willem I dapat dipandang sebagai bagian dari ekosistem kampanye keselamatan—bukan sebagai satu-satunya instrumen untuk menekan kecelakaan lalu lintas.
Nilai penting kegiatan ini justru terletak pada upaya memperluas ruang komunikasi kepolisian. Pesan tentang helm, kepatuhan terhadap rambu, etika berkendara dan keselamatan tidak hanya disampaikan di jalan atau ruang kelas, tetapi ditempatkan di ruang seni dan destinasi wisata.
Dengan demikian, tembok Benteng Willem I tidak sekadar menjadi bidang untuk memperindah kawasan. Ia menjadi medium dialog antara sejarah, seni, pariwisata dan keselamatan berlalu lintas.
Dan ketika pengunjung berhenti melihat mural, pesan yang diharapkan Polantas bukan hanya terbaca—tetapi diingat sebelum mereka kembali mengendarai kendaraan di jalan raya.
(75)




