SAMOSIR | MitraBhayangkara.my.id — Langit Danau Toba kembali menjadi ruang operasi teknologi. Ketika ancaman kekeringan dan fenomena El Niño menekan ketersediaan air, pemerintah bersama BMKG, Perum Jasa Tirta I dan PT Indonesia Asahan Aluminium kembali menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Tahap II.
Operasi berlangsung 21 September hingga 15 Oktober 2026 dengan sasaran wilayah perairan Danau Toba dan Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba.
Bukan Sekadar Membuat Hujan
OMC bukan semata-mata ditujukan agar hujan langsung turun di permukaan Danau Toba. Sasaran yang lebih penting adalah mengoptimalkan potensi awan sehingga menghasilkan tambahan air yang dapat masuk ke sistem DTA danau.
Pada pelaksanaan hari pertama Tahap II, BMKG mencatat satu sorti penerbangan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang kemudian turun di DTA Danau Toba dan tinggi muka air danau dilaporkan meningkat sekitar 15 milimeter.
Catatan 48 Juta Meter Kubik
Pelaksanaan OMC Tahap II juga tidak dapat dilepaskan dari hasil operasi sebelumnya.
OMC Tahap I yang berlangsung selama 25 hari dilaporkan menghasilkan tambahan sekitar 48 juta meter kubik air ke sistem Danau Toba.
Angka tersebut menjadi salah satu dasar untuk melanjutkan operasi pada September-Oktober 2026.
Elevasi Danau Toba Jadi Perhatian
Perum Jasa Tirta I menyebut operasi diarahkan untuk menjaga elevasi Danau Toba pada kisaran 902,04 meter.
Pengelolaan debit air harus mempertimbangkan berbagai kepentingan, mulai dari kebutuhan masyarakat, irigasi, industri hingga pembangkit listrik.
El Niño dan Risiko Kekeringan
BMKG sebelumnya memperingatkan bahwa El Niño 2026 berpotensi bertahan hingga awal 2027 dan dapat meningkatkan risiko kekeringan.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan sumber daya air Danau Toba menjadi persoalan lintas sektor.
Pemkab Samosir Dukung Mitigasi
Pemerintah Kabupaten Samosir melalui BPBD menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan OMC Tahap II sebagai bagian dari mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan.
Koordinasi antara pemerintah daerah, BMKG, PJT I, INALUM, BPBD dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan agar informasi kondisi lapangan dapat menjadi dasar penentuan prioritas operasi.
Transparansi Data Jadi Kunci
Dengan operasi berlangsung selama 25 hari, publik perlu mendapatkan gambaran yang terukur mengenai pelaksanaan dan hasil OMC.
Data seperti jumlah sorti penerbangan, wilayah sasaran, kondisi atmosfer, bahan semai, curah hujan, tambahan inflow dan perubahan elevasi Danau Toba penting untuk menjadi bagian dari evaluasi.
Dengan demikian, keberhasilan OMC dapat dinilai berdasarkan indikator yang terukur, bukan hanya berdasarkan munculnya hujan setelah operasi.
Menunggu Hasil Akhir
OMC Tahap II berlangsung hingga 15 Oktober 2026. Tantangan utamanya adalah memastikan tambahan air benar-benar memberikan kontribusi terhadap sistem Danau Toba secara berkelanjutan.
Danau Toba bukan hanya destinasi wisata. Danau ini merupakan bagian dari sistem sumber daya air yang memiliki arti penting bagi masyarakat, pertanian, industri dan energi.
Hujan boleh menjadi target. Tetapi akuntabilitas harus menjadi ukuran.
Pewarta: Andi Naibaho



