Bengkayang Kalimantan Barat–mitrabhayangkara.my.id – Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bengkayang, Rinto Andreas, menyoroti minimnya pelibatan media lokal dalam berbagai kegiatan budaya, khususnya pelaksanaan Gawai Dayak di tingkat kabupaten maupun kecamatan.Selasa 2/6/2026.
Menurut Rinto, media lokal selama ini memiliki peran penting dalam mempublikasikan berbagai kegiatan daerah, mulai dari budaya, pariwisata, pembangunan hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun dalam praktiknya, wartawan lokal justru sering kali tidak dilibatkan secara maksimal dengan alasan keterbatasan anggaran.
"Tidak hanya di tingkat kabupaten, bahkan sampai ke tingkat kecamatan kondisinya hampir sama. Ketika media menawarkan jasa peliputan dan publikasi, alasan yang sering disampaikan adalah tidak ada anggaran," ujar Rinto.
Ia mempertanyakan alasan tersebut mengingat Gawai Dayak merupakan agenda budaya besar yang setiap tahunnya menyedot anggaran yang tidak sedikit serta bertujuan memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat luas.
"Kalau memang tidak ada anggaran untuk publikasi, lalu untuk apa membuat kegiatan besar? Gawai Dayak bukan hanya seremoni, tetapi juga sarana promosi budaya yang membutuhkan publikasi agar dikenal luas oleh masyarakat dan wisatawan," katanya.
Rinto menilai sebagian panitia kegiatan budaya masih belum memahami perbedaan mendasar antara dokumentasi kegiatan dan kerja jurnalistik profesional. Menurutnya, dokumentasi hanya menghasilkan arsip foto atau video kegiatan, sementara media menjalankan fungsi publikasi yang lebih luas melalui pemberitaan yang memiliki nilai informasi, edukasi, promosi, serta dapat diakses publik secara berkelanjutan.
"Jangan hanya mengandalkan dokumentasi lalu mengabaikan publikasi profesional. Dokumentasi dan jurnalistik adalah dua hal yang berbeda. Dokumentasi menjadi arsip kegiatan, sedangkan produk jurnalistik menyebarluaskan informasi kepada masyarakat dengan kaidah, kode etik, dan tanggung jawab profesi yang jelas," tegasnya.
Rinto juga menyoroti besaran anggaran pelaksanaan Gawai Dayak Barape' Sawa 2026 yang disebut mencapai lebih dari Rp400 juta. Menurutnya, dengan anggaran sebesar itu, panitia seharusnya mampu mengakomodasi keterlibatan beberapa wartawan lokal untuk melakukan peliputan kegiatan.
"Kalau hanya melibatkan dua atau tiga wartawan lokal Bengkayang untuk meliput kegiatan, tentu tidak membutuhkan anggaran yang besar. Dengan honor peliputan berkisar antara Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per orang, total biaya yang dibutuhkan sangat kecil dibandingkan anggaran kegiatan yang mencapai lebih dari Rp400 juta. Karena itu, alasan tidak tersedianya anggaran untuk publikasi sulit dipahami oleh kalangan media," tegas Rinto.
Ia menambahkan bahwa media lokal selama ini menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat sekaligus mempromosikan berbagai potensi daerah. Karena itu, wartawan seharusnya dipandang sebagai mitra strategis dalam mendukung kesuksesan sebuah kegiatan budaya.
"Media lokal selalu hadir memberitakan kegiatan masyarakat dan pembangunan daerah. Sudah sepatutnya insan pers diberi ruang dan dihargai sebagai bagian dari upaya mempromosikan budaya daerah," ujarnya.
Lebih lanjut, Rinto menilai masih ada kecenderungan sebagian panitia lebih memilih mengandalkan dokumentasi internal daripada bekerja sama dengan media profesional. Padahal, jika tujuan kegiatan adalah memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas, maka publikasi melalui media memiliki peran yang sangat penting.
"Jangan sampai ingin kegiatan dikenal luas, ingin budaya daerah semakin populer, tetapi publikasinya diharapkan berjalan sendiri tanpa melibatkan media secara profesional. Media bukan pelengkap acara, melainkan mitra yang membantu menyebarluaskan informasi kepada masyarakat," katanya.
SMSI Bengkayang berharap ke depan seluruh panitia Gawai Dayak, baik di tingkat kabupaten maupun kecamatan, dapat membangun komunikasi yang lebih baik dengan media lokal serta memberikan ruang yang proporsional bagi wartawan untuk berpartisipasi dalam peliputan kegiatan budaya daerah.
"Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Yang kami harapkan adalah adanya kemitraan yang baik dan penghargaan terhadap profesi wartawan. Dengan sinergi yang baik antara panitia dan media, kegiatan budaya seperti Gawai Dayak akan semakin dikenal luas dan memberikan dampak positif bagi daerah," pungkasnya.
Pewarta:Budiman
