Sebanyak 21 tim dari wilayah Ungaran Barat dan Ungaran Timur terlibat dalam perebutan total hadiah Rp15 juta. Selama tiga hari, atmosfer pertandingan berlangsung panas namun tetap menjunjung tinggi sportivitas, mencerminkan semangat fair play yang menjadi ruh utama turnamen.
Antusiasme masyarakat terlihat luar biasa. Rata-rata 250 penonton memadati lapangan setiap harinya, menciptakan atmosfer meriah layaknya liga profesional. Dukungan ini tidak hanya memberi energi bagi para pemain, tetapi juga memperkuat kohesi sosial antarwarga lintas desa dan kelurahan.
Memasuki babak semifinal hingga final, kualitas permainan meningkat drastis. Strategi, teknik, dan kekompakan tim menjadi penentu kemenangan dalam laga-laga yang berlangsung ketat.
Akhirnya, Desa Kalikayen tampil sebagai juara pertama setelah menunjukkan dominasi permainan yang konsisten. Posisi runner-up diraih Kelurahan Gedanganak, disusul Kelurahan Beji di posisi ketiga dan Desa Mluweh di peringkat keempat.
Tak hanya itu, panitia juga menghadirkan laga eksebisi voli putri sebagai bentuk komitmen terhadap inklusivitas olahraga. Pertandingan antara Ungaran Barat dan Ungaran Timur ini menjadi sorotan, dengan kemenangan diraih oleh tim Ungaran Timur.
Kehadiran sejumlah tokoh penting semakin menguatkan legitimasi kegiatan ini. Bupati Semarang Ngesti Nugraha hadir langsung dan memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan turnamen. Turut mendampingi, Kapolsek Ungaran Kompol Sugiarta, Ketua KONI Dodi Prasetyo, anggota DPRD Wisnu Wahyudi, serta Ketua PBVSI Alexander Gunawan.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa olahraga bukan hanya soal prestasi, tetapi juga sarana membangun karakter generasi muda dan mempererat persatuan masyarakat. Ia juga mengapresiasi peran TNI melalui Danramil yang dinilai aktif mendorong kegiatan positif di tengah masyarakat.
Prosesi penyerahan hadiah berlangsung penuh kebanggaan. Juara pertama menerima piala langsung dari Bupati, sementara piala bergilir diserahkan oleh Danramil Inf. Sofyan Amirudin sebagai simbol keberlanjutan turnamen. Penghargaan lainnya diserahkan oleh unsur Forkopimcam dan DPRD.
Di balik kemeriahan turnamen, dampak ekonomi juga terasa nyata. Aktivitas pedagang kecil di sekitar lokasi meningkat signifikan seiring ramainya penonton, menjadikan event ini sebagai penggerak ekonomi mikro masyarakat.
DANRAMIL CUP III bukan sekadar turnamen—ini adalah bukti bahwa olahraga mampu menjadi perekat sosial, penggerak ekonomi, dan fondasi pembinaan atlet masa depan. Ke depan, ajang ini diharapkan terus berkembang menjadi agenda rutin yang lebih besar, profesional, dan menjangkau lebih banyak talenta muda.
(Pewarta : Irawan)


