Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Mitra Bhayangkara, My, Id 

Rabu, 13 Mei 2026 — Dugaan kasus perundungan terhadap seorang siswi sekolah dasar di kawasan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, memicu perhatian publik setelah video kejadian disebut beredar di media sosial.


Kasus ini bahkan memunculkan sorotan dengan munculnya istilah “No Viral No Justice” di tengah desakan masyarakat agar aparat serius menangani perkara tersebut.


Peristiwa itu diduga terjadi di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Jalan Kuin Utara Gang Al-Mizan, Kelurahan Kuin Utara. Korban berinisial N, siswi kelas III SD, dilaporkan mengalami sejumlah luka lebam di bagian tubuh usai diduga menjadi korban kekerasan oleh teman sebayanya berinisial E Kelas VI SD.


Tak hanya N, sejumlah korban lain disebut memilih bungkam karena diduga takut dan mendapat tekanan dari pihak keluarga pelaku.


Dalam keterangannya, N menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya kejadian di luar jam sekolah sore hari.ia mengaku awalnya hendak mencari teman bermain sebelum didatangi E.


“Dia memanggil saya dan bilang, ‘Kita berkelahi yuk, tapi enggak sakit kok.’ Saya menolak karena saya lemah' ucapan korban kepada pelaku.


Namun, menurut pengakuan korban, E terus membujuk dan mengatakan bahwa perkelahian itu hanya bercanda. Meski berkali-kali menolak, N mengaku terus dipaksa hingga akhirnya dibawa masuk ke halaman sekolah.


“Di sana ternyata sudah banyak teman-temannya menunggu. Saya didorong-dorong sambil direkam pakai kamera handphone,” katanya.


Korban mengaku situasi kemudian berubah menjadi tindakan kekerasan. Ia menyebut sempat didorong keras hingga kehilangan keseimbangan. Tak lama kemudian, E diduga menendang area sensitif tubuh korban serta menjambak rambutnya.


“Saya jatuh ke tanah, badan saya diguling-gulingkan dan diputar-putar sampai kepala saya terbentur batu bata di halaman sekolah. Setelah itu dia duduk di atas perut saya, kepala dan wajah saya ditampar berkali-kali,” tutur N.


Korban juga mengaku mendengar salah satu teman pelaku berteriak menyuruh agar kepalanya “dihempaskan”.


“Setelah itu kepala saya sakit sekali seperti mau pingsan. Saya susah bernapas dan badan saya lemas berdiri dekat pagar sekolah,” ujarnya.


Menurut N, setelah kejadian tersebut pelaku sempat meminta agar peristiwa itu tidak dilaporkan kepada guru maupun orang tua.


“Dia bilang, ‘Hy fun saja ya, jangan bilang ibu kelas atau mama kamu, nanti aku masuk PK.’ Dia bilang berkali-kali, dan saya cuma mengiyakan karena sudah kesakitan,” katanya.


Sementara itu, ibu korban berinisial B mengaku baru mengetahui anaknya diduga menjadi korban perundungan pada tanggal 9 Mei 2026, ditanggal 5 Mei 2026 saat kejadian tidak tahu pihak sekolah pun engga memberi tahu padahal di sekolah ada cctv.


Beberapa hari kemudian pada 9 Mei 2026, seorang ibu ketua RT memberitahu bahwa video kejadian tersebut viral di TikTok.


"Anak saya saat di tanya cuma mengatakan jatuh dari sepeda listrik,"


“Bu RT memberi tahu kalau video anak saya dibully viral di TikTok. Dari situ saya tahu ternyata anak saya juga diancam oleh E,” ujar B.


Ia mengaku kondisi anaknya mengalami luka di sejumlah bagian tubuh. Menurutnya, keluarga telah mengumpulkan bukti berupa foto dan video kondisi korban.


“Di kepala ada luka, perut lebam, area selangkangan bengkak dan lebam, bawah mata bengkak, kaki kanan juga tergores,” katanya.


B juga mengaku keluarganya mendapat tekanan apabila membawa kasus itu ke ranah hukum.


“Kami juga diancam oleh nenek pelaku. Katanya kalau kami melapor ke polisi, mereka akan melaporkan balik,” ungkapnya.


Menurut B, beberapa orang tua korban lain memilih diam karena takut berurusan dengan keluarga pelaku.


“Orang yang menyimpan video korban-korban sebelumnya juga diintimidasi. Banyak ibu korban lain takut dan malas berurusan dengan nenek pelaku,” katanya.


Ia juga menyebut E dikenal sebagai anak yang kerap membuat keresahan di lingkungan tempat tinggalnya dan disebut memiliki kelompok geng/pertemanan yang berkaitan dengan bela diri silat.


“Kami sudah melapor ke Unit PPA Polresta Banjarmasin. Namun saat itu disarankan mediasi. Jujur saya tidak ingin ada perdamaian karena kondisi anak saya sekarang jadi linglung setelah kejadian itu,” tutur B.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun keluarga terlapor terkait dugaan perundungan tersebut. Kasus ini kini menjadi perhatian masyarakat setelah rekaman video dugaan kekerasan terhadap anak itu menyebar luas di media sosial. (red)

Post a Comment

Selamat Datang

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1