Pontianak,Kalbar,MitraBhayangkara.my.id — Di kota yang dibelah aliran Sungai Kapuas, lalu lintas air bukan sekadar denyut ekonomi, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat. Dari jalur-jalur inilah distribusi logistik, mobilitas warga, hingga aktivitas ekonomi berlangsung setiap hari. Dalam konteks tersebut, peran navigasi menjadi krusial—menjaga arah, memastikan keselamatan, serta mengawal setiap perjalanan di perairan.
Di titik yang sama, pers hadir sebagai pilar penting: menyampaikan informasi, menjalankan fungsi kontrol sosial, sekaligus menerjemahkan dinamika teknis menjadi pemahaman publik yang utuh, akurat, dan berimbang.
Kesadaran inilah yang mendorong jajaran Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Wartawan Internasional (ASWIN) Kalimantan Barat melakukan kunjungan ke Kantor Distrik Navigasi Tipe A Kelas III Pontianak, Rabu (22/4/2026). Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi, melainkan langkah strategis dalam membangun sinergi komunikasi antara otoritas pelayaran dan ruang publik.
Rombongan DPD ASWIN Kalbar dipimpin Ketua Budi Gautama, didampingi Wakil Ketua Irfan Tiago Usman, serta Kepala Bidang Monitoring dan Investigasi Nardi M. Kehadiran jajaran pengurus ini menegaskan komitmen organisasi dalam memperkuat jurnalisme yang tidak hanya cepat, tetapi juga tajam, berbasis data, dan bertanggung jawab.
Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Kepala Distrik Navigasi Tipe A Kelas III Pontianak, Azhar Karim, S.H., S.Pd., M.M. Dalam suasana dialog yang terbuka dan konstruktif, pembahasan mengerucut pada isu utama, yakni keselamatan pelayaran serta pentingnya keterbukaan informasi kepada masyarakat.
“Perairan kita bersifat dinamis. Risiko selalu ada, namun dapat diminimalisir melalui sistem navigasi yang baik serta penyampaian informasi yang tepat kepada masyarakat,” ujar Azhar Karim. Ia menegaskan bahwa media memiliki peran strategis, bukan sekadar sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai mitra dalam membangun kesadaran publik terkait keselamatan pelayaran.
Sementara itu, Ketua DPD ASWIN Kalbar, Budi Gautama, menegaskan bahwa pers tidak boleh berhenti pada permukaan informasi semata.
“Pers harus hadir secara substansial. Ada kerja-kerja investigasi, fungsi kontrol sosial, serta tanggung jawab moral untuk menjaga akurasi dan integritas informasi,” tegasnya.
Pertemuan tersebut berkembang menjadi ruang diskusi yang lebih luas, mencakup potensi isu-isu maritim, tantangan keselamatan pelayaran di wilayah daerah aliran sungai, hingga peluang kolaborasi dalam penyebarluasan informasi publik yang edukatif dan berimbang.
Bagi ASWIN, kunjungan ini bukan agenda seremonial. Ini merupakan bagian dari upaya memperkuat fondasi kerja jurnalistik yang berbasis data, akses terhadap sumber yang kredibel, serta penguatan jejaring kelembagaan.
Di wilayah seperti Kalimantan Barat, di mana kondisi geografis kerap beririsan dengan keterbatasan akses informasi, kemitraan antara institusi teknis dan media menjadi kebutuhan strategis. Navigasi menjaga arah kapal, sementara pers menjaga arah informasi.
Di akhir pertemuan, tidak ada penandatanganan dokumen formal. Namun demikian, terbangun komitmen bersama untuk membuka jalur komunikasi yang lebih transparan, responsif, dan bertanggung jawab.
Sebab di perairan yang luas, kesalahan arah dapat berakibat fatal. Demikian pula dalam arus informasi—ketepatan, akurasi, dan integritas menjadi kunci utama.
(Red)

