DENPASAR | MitraBhayangkara.my.id – Pucuk pimpinan Kepolisian Daerah (Polda) Bali kembali berganti. Di tengah gerbong besar mutasi Polri setelah pergantian pucuk pimpinan Korps Bhayangkara, Brigjen Pol. Dr. Pasma Royce, S.I.K., M.H. mendapat mandat baru sebagai Kapolda Bali menggantikan Irjen Pol. Daniel Adityajaya, S.H., S.I.K., M.Si.
Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian pejabat rutin. Bali merupakan salah satu wilayah dengan karakter keamanan yang kompleks: destinasi wisata internasional, mobilitas wisatawan asing yang tinggi, aktivitas ekonomi dan investasi yang besar, hingga potensi kejahatan lintas wilayah. Karena itu, sosok yang ditunjuk memimpin Polda Bali memiliki posisi strategis dalam menjaga keamanan sekaligus membangun kepercayaan publik.
Mutasi itu tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026. Telegram tersebut menjadi bagian dari mutasi dan rotasi terhadap 88 perwira tinggi (Pati) dan perwira menengah (Pamen) Polri.
Daniel Adityajaya Dimutasi ke Luar Struktur
Dalam keputusan tersebut, posisi Daniel Adityajaya sebagai Kapolda Bali berakhir. Namun, penting dicatat, perubahan jabatan itu tidak berarti Daniel dicopot dari institusi Polri.
Daniel dimutasi sebagai Perwira Tinggi Bareskrim Polri dalam rangka penugasan luar struktur. Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol. Ariasandy juga membenarkan adanya pergantian Kapolda Bali dan menyebut serah terima jabatan dilaksanakan di Mabes Polri.
Daniel sebelumnya dipercaya menjadi Kapolda Bali sejak Juli 2024. Ia menggantikan Irjen Pol. Ida Bagus Kade Putra Narendra melalui rangkaian sertijab yang dipimpin Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pada 29 Juli 2024.
Dengan demikian, masa kepemimpinan Daniel di Polda Bali berlangsung sekitar dua tahun sebelum kembali masuk dalam gerbong mutasi besar Polri Oktober 2026.
Pasma Royce: Dari Perbatasan hingga Kota Metropolitan
Sementara itu, nama Pasma Royce bukanlah sosok yang muncul secara tiba-tiba dalam bursa pimpinan kewilayahan Polri.
Alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1996 tersebut memiliki pengalaman panjang, khususnya di bidang reserse dan kewilayahan. Rekam jejaknya mencakup sejumlah posisi strategis, mulai dari Kapolres Nunukan, Wakapolresta Sidoarjo, Dirreskrimum Polda Bengkulu, Dirreskrimsus Polda Kalimantan Tengah, hingga penugasan di Bareskrim Polri.
Pasma kemudian dipercaya menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat pada 2022. Setahun berikutnya, melalui Surat Telegram Kapolri Nomor ST/498/II/KEP./2023 tertanggal 26 Februari 2023, ia ditunjuk sebagai Kapolrestabes Surabaya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pola penugasan Pasma yang tidak hanya berada di wilayah perkotaan, tetapi juga kawasan dengan karakter geografis dan keamanan yang berbeda.
Dari Nunukan ke Surabaya, Kini Bali
Jika ditarik ke belakang, perjalanan karier Pasma Royce memperlihatkan pengalaman dari wilayah perbatasan hingga kota metropolitan.
Saat menjadi Kapolres Nunukan pada 2015, Pasma berhadapan dengan karakter wilayah perbatasan yang memiliki dinamika tersendiri. Setelah itu, ia mendapatkan pengalaman manajerial dan penegakan hukum di Sidoarjo, Bengkulu, Kalimantan Tengah, Jakarta Barat, hingga Surabaya.
Pada September 2024, Pasma dipromosikan menjadi Wakapolda Jawa Timur menggantikan Brigjen Pol. Akhmad Yusep Gunawan. Penunjukan tersebut berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2098/IX/KEP./2024 tertanggal 20 September 2024.
Posisi Wakapolda Jatim itu masih dijalankannya hingga mutasi terbaru Oktober 2026. Bahkan, sejumlah pemberitaan resmi dan media nasional mencatat aktivitas Pasma sebagai Wakapolda Jatim sepanjang 2026 sebelum ia mendapat promosi menjadi Kapolda Bali.
Kenapa Bali?
Pertanyaan yang menarik bukan hanya siapa pengganti Daniel Adityajaya, tetapi mengapa pengalaman Pasma Royce menjadi relevan untuk Bali.
Bali mempunyai karakter keamanan yang berbeda dibanding banyak daerah lain. Sebagai destinasi wisata dunia, gangguan keamanan di Bali berpotensi memiliki dampak berantai terhadap pariwisata, investasi, ekonomi daerah dan citra Indonesia di mata masyarakat internasional.
Mobilitas wisatawan asing, kejahatan konvensional, narkotika, perdagangan orang, kejahatan siber, konflik sosial, hingga persoalan lalu lintas menjadi bagian dari tantangan kepolisian di Pulau Dewata.
Pengalaman Pasma dalam menangani wilayah perbatasan, kota metropolitan dan wilayah dengan dinamika kriminalitas tinggi menjadi modal yang relevan untuk menghadapi karakter tersebut. Namun, pengalaman saja tentu tidak cukup. Publik Bali akan menunggu bagaimana pengalaman itu diterjemahkan menjadi kebijakan konkret.
Gerbong Mutasi Lebih Besar dari Sekadar Bali
Pergantian Kapolda Bali harus dibaca dalam konteks gerbong mutasi yang jauh lebih besar.
Polri menyatakan sebanyak 88 Pati dan Pamen dimutasi dalam Telegram Kapolri tersebut. Sejumlah posisi strategis Kapolda di berbagai daerah juga mengalami pergantian.
Polri menyebut rotasi dan mutasi tersebut sebagai bagian dari dinamika organisasi, kebutuhan organisasi, pembinaan karier serta penyegaran pelaksanaan tugas kepolisian.
Artinya, perubahan di Polda Bali bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Pergantian Pasma Royce dari Wakapolda Jawa Timur menjadi Kapolda Bali merupakan bagian dari penataan struktur kepemimpinan Polri secara lebih luas.
Ujian Pertama Pasma Royce Menanti
Dengan jabatan baru tersebut, pekerjaan rumah Pasma Royce di Bali tidak ringan.
Publik tentu akan menunggu sejauh mana Kapolda baru mampu memastikan keamanan wisatawan, menekan kejahatan jalanan, memperkuat pemberantasan narkotika dan kejahatan lintas negara, menangani kejahatan siber, sekaligus menjaga kualitas pelayanan publik kepolisian.
Lebih dari itu, tantangan terbesar seorang Kapolda bukan hanya menjaga angka kriminalitas tetap terkendali, tetapi memastikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian tetap terjaga.
Karena itu, promosi Pasma Royce menjadi Kapolda Bali pada akhirnya akan diuji bukan oleh panjangnya daftar jabatan yang pernah diemban, melainkan oleh capaian nyata selama memimpin Polda Bali.
Mutasi Bukan Akhir Karier Daniel
Di sisi lain, penempatan Daniel Adityajaya sebagai Pati Bareskrim Polri dalam rangka penugasan luar struktur juga perlu dibaca secara proporsional.
Mutasi tersebut merupakan keputusan organisasi. Belum terdapat dasar yang dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa pergantian tersebut berkaitan dengan persoalan hukum atau pelanggaran tertentu.
Karena itu, segala spekulasi mengenai alasan personal di balik pergantian Kapolda Bali harus ditempatkan sebagai dugaan sampai terdapat keterangan resmi dari institusi yang berwenang.
Yang telah terkonfirmasi adalah satu hal: tongkat komando Polda Bali berpindah dari Irjen Pol. Daniel Adityajaya kepada Brigjen Pol. Pasma Royce dalam rangkaian rotasi besar 88 Pati dan Pamen Polri pada Oktober 2026.
Kini perhatian publik Bali tertuju kepada Kapolda baru. Rekam jejak Pasma Royce telah menjadi modal awal. Selanjutnya, kinerja dan keputusan di lapangan yang akan menentukan bagaimana kepemimpinannya dikenang.
Kontributor: Gus Wedha




