Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Mitra Bhayangkara, My, Id - 17 Mei 2026 — Kasus dugaan perundungan terhadap seorang siswa sekolah dasar di kawasan Kuin Utara Banjarmasin, kembali menjadi sorotan publik. Pihak keluarga korban membantah keras adanya perdamaian dengan keluarga terduga pelaku bullying berinisial E.
Sebelumnya, keluarga terduga pelaku diduga menyebarkan informasi kepada awak media dengan mengirimkan dua dokumen berbentuk PDF berupa surat permintaan maaf dan surat perjanjian damai tertanggal 7 Mei 2026.
Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa pihak keluarga pelaku telah mendatangi rumah korban berinisial N untuk meminta maaf. Namun pertemuan disebut batal lantaran ibu korban disebut menangis histeris dan mengamuk di depan rumah.
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh B, ibu korban N. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini tidak pernah ada kedatangan keluarga pelaku ke rumahnya untuk meminta maaf ataupun melakukan proses damai secara resmi.
“Jangankan minta maaf, ulun malah yang datang ke rumah mereka dengan niat baik,” ujar B kepada awak media.
Menurut B, saat dirinya mendatangi rumah keluarga E, situasi justru memanas. Ia mengaku sempat mencoba mengajak E berbicara baik-baik, namun respons yang diterima justru dinilai tidak menghargai dirinya sebagai orang tua korban.
“Waktu itu ulun bilang, ‘Sini E duduk.’ Tapi E menjawab, ‘Ikam siapa ngatur aku-aku,’” ungkapnya.
B juga menuturkan bahwa ibu dari E lebih banyak membela anaknya dan menyebut anaknya mengalami tekanan mental akibat persoalan tersebut.
“Mamanya mengomel terus, katanya anaknya trauma, kena mental gara-gara anak ulun dituduh mengatai E seorang LC,” katanya.
Tak hanya itu, B mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan selama berada di rumah keluarga E. Ia menyebut E memandang dirinya dengan tatapan sinis, sementara ibunya dinilai bersikap arogan.
“Si E menatap saya melotot dengan wajah ketus. Mamanya juga pasang wajah angkuh dan arogan,” ujarnya.
Situasi semakin memanas ketika dirinya menangis di lokasi. B mengaku bahkan diusir oleh nenek E saat berada di rumah tersebut.
“Saya menangis, lalu diusir neneknya. Suami saya kemudian menarik saya keluar rumah, sambil direkam oleh mama E, seakan-akan saya yang melakukan penyerangan,” tuturnya.
B mengakui dirinya sempat histeris lantaran memikirkan kondisi anaknya yang diduga menjadi korban pengeroyokan serta tidak melihat adanya itikad baik dari pihak keluarga pelaku.
“Hati saya panas. Anak saya dihajar, tapi tidak ada niat baik untuk meminta maaf. Apa daya selain menangis sejadi-jadinya,” katanya.
Ia juga membantah tudingan bahwa dirinya mengamuk di rumah sebagaimana tertulis dalam surat yang beredar.
“Kalau saya menangis dan mengelujak lunjak itu benar, tapi itu di luar rumah keluarga pelaku, di tanah. Banyak saksi warga kampung yang melihat,” ujarnya.
B bahkan bersumpah bahwa sampai saat ini keluarga pelaku tidak pernah datang ke rumahnya untuk meminta maaf secara langsung.
“Sampai detik ini tidak pernah pihak keluarga pelaku menjejakkan kaki ke rumah ulun. Demi Allah Rasulullah,” tegasnya.
Lebih lanjut, B memastikan tidak pernah ada proses perdamaian ataupun penandatanganan surat damai sebagaimana yang tercantum dalam dokumen PDF tersebut.
“Saya tidak pernah tanda tangan surat damai apa pun. Tatap muka pun tidak ada,” katanya.
Di tengah polemik tersebut, salah satu pihak keluarga korban berinisial LH menyebut persoalan kini sudah diserahkan kepada pihak sekolah dan Dinas Pendidikan untuk ditindaklanjuti.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah karena kasus ini sudah diambil alih pihak sekolah dan Dinas Pendidikan,” ujar LH.
LH mengatakan pihak keluarga korban saat ini memilih menunggu langkah penyelesaian dari instansi terkait demi kepentingan terbaik bagi anak-anak yang terlibat.
“Mereka berjanji akan membantu menyelesaikan permasalahan ini,” tambahnya.
Sementara itu, B mengungkapkan pihak sekolah sempat menawarkan mediasi antara kedua belah pihak. Namun upaya tersebut belum menemukan titik temu.
“Sempat pihak sekolah mengajak mediasi, tapi saya tolak. Selama ulun tidak tanda tangan, sampai mati pun tidak ada kata damai,” tutupnya.
Kasus dugaan bullying tersebut kini masih menjadi perhatian masyarakat sekitar Kuin Selatan. Publik pun menyoroti pentingnya penyelesaian persoalan anak secara terbuka, jujur, serta mengutamakan perlindungan dan pemulihan korban. (Dw/red)
