Kacau di Batang: Turnamen SSB Berujung 8 Juara Sekaligus


Batang, 21 April 2026
— Ajang Anniversary SSB Pasopati Batang yang seharusnya menjadi panggung pembinaan talenta muda justru berubah menjadi sorotan tajam. Turnamen yang digelar Minggu (19/4/2026) di Lapangan Gelora Bengkok Lurah Tulis, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang itu menyisakan polemik serius soal standar penyelenggaraan.


Diikuti puluhan Sekolah Sepak Bola (SSB) dari Jawa Tengah dan DIY — terdiri dari 24 tim U-12 dan 13 tim U-10 — turnamen ini awalnya berlangsung meriah. Namun, berbagai persoalan teknis perlahan muncul dan memuncak di fase krusial.



Lapangan Tak Standar, Keselamatan Dipertanyakan

Sejak awal, kondisi lapangan sudah menuai kritik. Satu lapangan dibagi menjadi empat bagian sekaligus, membuat ruang bermain sempit dan jauh dari standar kompetisi usia dini. Lebih mencolok lagi, penggunaan gawang berbahan bambu dinilai tidak layak dan berpotensi membahayakan pemain.


Sejumlah pelatih dan orang tua pemain menyayangkan hal ini karena turnamen melibatkan anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan maksimal dalam pertandingan.



Manajemen Amburadul, Jadwal Berantakan

Masalah semakin pelik saat memasuki babak gugur. Proses pelaporan hasil pertandingan dari wasit ke panitia tersendat, menyebabkan rekapitulasi memakan waktu hingga satu jam. Dampaknya, jadwal pertandingan molor drastis.


Babak 8 besar yang seharusnya berjalan normal justru digelar menjelang magrib. Minimnya pencahayaan membuat kondisi lapangan gelap, bahkan bola sudah sulit terlihat jelas oleh pemain maupun ofisial.



Keputusan Kontroversial: 8 Tim Jadi Juara 1

Dalam situasi darurat, panitia bersama Askab Batang memilih jalan musyawarah. Delapan tim yang lolos ke babak 8 besar dipanggil untuk mengambil keputusan bersama.


Hasilnya di luar dugaan: seluruh tim sepakat dinyatakan sebagai juara pertama bersama. Masing-masing tim menerima uang pembinaan sebesar Rp750.000.


Adapun delapan tim tersebut adalah:
Pasopati Batang, SS 79, Anaca Pekalongan, Terang Bintang, Binatama Tegal, G Soccer, Persik Putra, dan Java Soccer.



Catatan Hitam atau Solusi Darurat?

Keputusan ini disebut-sebut sebagai peristiwa langka, bahkan bisa jadi pertama dalam sejarah turnamen sepak bola usia dini di Indonesia. Di satu sisi, langkah ini dinilai mampu meredam konflik dan menjaga kondusivitas. Namun di sisi lain, banyak pihak mempertanyakan profesionalitas penyelenggara.


Kejadian ini menjadi alarm keras bagi pengelola turnamen usia dini. Standar lapangan, kesiapan teknis, hingga manajemen waktu bukan lagi sekadar formalitas, melainkan kebutuhan mutlak untuk menjaga kualitas dan keselamatan pembinaan sepak bola anak.


Jika tidak dibenahi, ajang yang seharusnya melahirkan bibit unggul justru berisiko mencederai semangat sportivitas sejak dini.


(Jurnalis: Irawan)

Post a Comment

Selamat Datang

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1