Pengisian BBM subsidi menggunakan jerigen secara langsung dari nosel merupakan pelanggaran tegas terhadap aturan keselamatan dan distribusi. Namun fakta di lapangan menunjukkan praktik tersebut diduga telah menjadi rutinitas. Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan pengakuan pembeli bahwa pengisian BBM ke jeriken di SPBU itu adalah hal biasa. Pengakuan ini memperkuat dugaan adanya pembiaran sistematis oleh pengelola SPBU dan lemahnya pengawasan.
BBM subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat diduga dialihkan ke jeriken dan disinyalir mengalir ke jaringan distribusi ilegal. Negara dirugikan, hak masyarakat dirampas, dan keselamatan publik dipertaruhkan. Insiden ini menyingkap kegagalan pengawasan dari berbagai pihak. Pertamina, aparat pengawas, hingga pengelola SPBU dinilai tidak dapat lagi berlindung di balik alasan prosedural. Jika praktik ini benar berlangsung lama, maka persoalan ini melampaui pelanggaran administratif dan mengarah pada dugaan kejahatan distribusi energi bersubsidi.
Tidak adanya korban jiwa dalam kejadian ini disebut sebagai keberuntungan semata. Api yang menyala di SPBU menjadi peringatan keras atas bahaya yang selama ini diabaikan. Hingga berita ini diterbitkan, pengelola SPBU 64.786.12 Tugu BI Sintang belum memberikan keterangan resmi. Sikap bungkam di tengah dugaan skandal distribusi BBM subsidi justru memunculkan pertanyaan serius tentang akuntabilitas dan tanggung jawab hukum.
Penegak hukum didesak untuk segera bertindak tegas, termasuk penyegelan SPBU, audit distribusi BBM, pemeriksaan operator dan pengelola, serta penindakan pidana terhadap pihak-pihak yang terlibat. (TIM

