Kantor Baru, Semangat Baru: DPC BPAN–LAI Semarang Ajak Kolaborasi Jaga Kondusivitas


Semarang, MitraBhayangkara.my.id
– Dewan Pimpinan Cabang Badan Penelitian Aset Negara–Lembaga Aliansi Indonesia (DPC BPAN–LAI) Kabupaten Semarang menggelar syukuran penempatan kantor baru di Jalan Pemuda No. 205, Pojoksari, Ambarawa, Kabupaten Semarang, pada Selasa (20/1/2026). Acara ini dihadiri lebih dari 35 tamu lintas unsur—mulai dari perwakilan pemerintah daerah, aparat penegak perda, organisasi masyarakat, LSM, relawan, hingga rekan media.


Meski dijadwalkan pukul 10.00 WIB, kegiatan berlangsung hangat dan cair dalam suasana kekeluargaan, lalu dimulai sekitar pukul 11.00 WIB dengan doa bersama. Doa dipanjatkan sebagai ikhtiar spiritual agar setiap langkah pengabdian dimudahkan, rezeki dilapangkan, serta komitmen organisasi tetap terjaga: amanah, tertib, dan bermanfaat bagi masyarakat.


Lintas Unsur Hadir, Tanda Ruang Dialog Masih Terbuka

Sejumlah tamu undangan yang hadir, di antaranya:

  • Kesbangpol Kabupaten Semarang, diwakili Ibu Yuni
  • Satpol PP, diwakili Bapak Danang
  • Forum Komunikasi Serasi (Forkos), dipimpin Ali Imron (Gus Ipung)
  • Ormas Lumut Ijo, diketuai Imam Basuki, S.H.
  • Ketua Umum Supeltas (Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas), Bapak Yakub Pujianto
  • LSM Ontoseno, diwakili Mas Soeharyo
  • PAC PP Bandungan, diketuai Mas Budiyono
  • Pengurus DPD LAI Jateng, diwakili Pak Gino
  • Simpatisan dan pengurus LAI, di antaranya Bapak Ajik (Sumowono), Bang Eko/Bang Niko, rekan media 1Pena.id (Mas Willy), serta pengurus senior LAI.

Kehadiran lintas unsur ini menjadi pesan tersendiri: perbedaan latar tidak harus menjadi jarak, selama komunikasi dijaga dan tujuan bersama dipahami—yakni ketertiban, pelayanan publik yang baik, serta suasana sosial yang rukun dan kondusif.


Potong Tumpeng: Simbol Syukur, Sekaligus Pengingat Nilai Kebersamaan

Rangkaian kegiatan inti meliputi doa bersama, pemotongan tumpeng, dan ramah tamah. Tradisi tumpengan bukan sekadar seremoni, melainkan simbol syukur dan harapan keselamatan. Dalam prosesi tersebut, potongan tumpeng diberikan kepada Ibu Yuni selaku perwakilan Kesbangpol, dilanjutkan kepada Gus Ipung (Forkos) dan Bapak Danang (Satpol PP).


Secara edukatif, tumpeng juga kerap dimaknai sebagai pengingat: semakin “tinggi” posisi atau amanah, semakin besar tanggung jawab untuk memberi manfaat—bukan untuk meninggikan ego atau kelompok.



Jansen Sidabutar: Kantor Baru Harus Jadi Rumah Pengabdian dan Aduan Warga

Ketua DPC LAI Kabupaten Semarang, Jansen Sidabutar, menekankan bahwa perpindahan kantor bukan hanya soal alamat, tetapi soal peningkatan kualitas kerja dan pelayanan organisasi.


Jansen menyampaikan harapannya agar kantor baru ini menjadi ruang terbuka untuk kolaborasi, sekaligus tempat masyarakat bisa menyampaikan aspirasi secara tertib. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga etika organisasi dalam menjalankan peran sosial.


Dalam pandangannya, sinergi dengan pemerintah daerah dan unsur penegak perda bukan untuk “mencari panggung”, melainkan untuk memastikan kerja-kerja sosial berjalan sesuai aturan, tidak memicu gesekan, dan mengutamakan dialog. Jansen juga menaruh harapan agar relasi yang baik dengan ormas/LSM dan relawan dapat melahirkan program yang konkret: edukasi tertib sosial, penguatan kepedulian lingkungan, hingga dukungan terhadap pelayanan publik yang lebih responsif.


Soleh Sukiawan: Tertib Administrasi, Tertib Data, Agar Advokasi Lebih Terarah

Sementara itu, Sekretaris DPC LAI Kabupaten Semarang, Soleh Sukiawan, menyoroti sisi yang sering luput tetapi sangat menentukan: ketertiban administrasi dan kerapian dokumentasi.


Menurut Soleh, kantor baru harus menjadi momentum pembenahan internal—mulai dari arsip kegiatan, pencatatan program, hingga mekanisme komunikasi organisasi agar lebih rapi, cepat, dan akuntabel. Ia berharap, dengan sekretariat yang lebih representatif, koordinasi lintas unsur dapat berjalan lebih efektif, termasuk saat organisasi ikut terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.


Soleh juga menyampaikan harapan agar rekan media bisa menjadi mitra edukasi publik: menyampaikan informasi yang menyejukkan, mendorong literasi sosial, dan mengangkat kerja kolaboratif yang berdampak langsung bagi warga.


Harapan Tamu: Guyub, Komunikatif, dan Jadi Mitra Solusi

Di sela ramah tamah, sejumlah tamu juga menyampaikan pandangan dan harapan:

  • Ibu Yuni (Kesbangpol) menekankan pentingnya ormas/LSM memperkuat budaya dialog dan menjaga persatuan. Ia berharap keberadaan LAI dapat ikut menambah “gairah kebersamaan” antarorganisasi, sehingga potensi salah paham di tengah masyarakat bisa dicegah lewat komunikasi yang sehat.
  • Bapak Danang (Satpol PP) menyampaikan harapan agar LAI dapat menjadi mitra yang ikut mendorong kepatuhan terhadap peraturan daerah dengan cara-cara persuasif dan edukatif, bukan konfrontatif. Menurutnya, kondusivitas daerah lebih mudah terjaga bila unsur masyarakat dan pemerintah saling percaya serta saling mengingatkan.
  • Gus Ipung (Forkos) menilai forum semacam ini penting untuk merawat tradisi “guyub”. Ia berharap setiap elemen yang hadir dapat mengedepankan musyawarah saat ada persoalan sosial, agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik.
  • Imam Basuki, S.H. (Ormas Lumut Ijo) berharap kantor baru ini menjadi simpul kolaborasi yang melahirkan kegiatan sosial nyata, sekaligus memperkuat kedewasaan berorganisasi—berbeda boleh, tetapi tetap satu tujuan: kemaslahatan masyarakat.
  • Yakub Pujianto (Supeltas) menyampaikan harapan agar komunikasi dengan relawan lapangan semakin baik, terutama menyangkut edukasi ketertiban berlalu lintas, keselamatan jalan, dan budaya saling menghormati di ruang publik.
  • Perwakilan LSM dan rekan media yang hadir juga menekankan harapan agar kolaborasi tidak berhenti di acara seremonial, melainkan berlanjut pada program-program yang terukur dan bisa dirasakan manfaatnya.


Pesan Edukatif: Kondusivitas Lahir dari Kolaborasi, Bukan Jalan Sendiri-sendiri

Syukuran kantor baru ini kembali mengingatkan bahwa menjaga daerah tetap aman dan harmonis tidak cukup dengan niat baik saja—perlu kolaborasi, keterbukaan, dan kesediaan mendengar.


Secara peran, Kesbangpol berfokus pada penguatan persatuan, ketahanan sosial, serta pembinaan organisasi kemasyarakatan. Sementara Satpol PP menjalankan tugas menjaga ketertiban umum serta penegakan peraturan daerah. Ketika dua fungsi ini bertemu dalam suasana kekeluargaan bersama elemen masyarakat, yang terbentuk bukan sekadar agenda seremonial, melainkan modal sosial berupa kepercayaan (trust)—fondasi penting untuk mencegah gesekan, meredam rumor, dan mempercepat penyelesaian persoalan warga.


Syukuran ini juga menjadi penegas bahwa kebersamaan tidak selalu harus mewah. Yang paling penting adalah arah yang sama: membangun Kabupaten Semarang yang aman, tertib, dan harmonis—dengan cara yang santun, komunikatif, dan bertanggung jawab.


(Pewarta: 75)

Post a Comment

Selamat Datang

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1