Sidikalang, MitraBhayangkara.my.id– Polemik hukum yang melibatkan Syahdan Sagala dan putrinya, Nelly Dwi Putri Sagala, memasuki babak baru. Keduanya menerima undangan resmi dari Polres Dairi untuk memberikan klarifikasi dalam rangka permintaan keterangan penyelidikan tahap pertama.
Undangan tersebut tertuang dalam Surat Nomor: B/2707/XII/RES 1.24./2025/Sat.Reskrim, yang secara formal meminta kehadiran Syahdan Sagala guna menjelaskan duduk perkara atas laporan yang diarahkan kepada dirinya.
Menurut penjelasan Syahdan Sagala, pelapor dalam kasus ini adalah Nuridah Puspa Dewi Pasi. Dalam laporannya, Puspa Dewi menuduhkan bahwa Syahdan bersama beberapa orang lain diduga melakukan tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama. Peristiwa itu disebut terjadi pada Rabu, 17 Desember 2025 sekitar pukul 18.00 WIB di Jalan Sidikalang–Medan, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi.
Namun tuduhan tersebut dibantah tegas oleh Syahdan. Ia menyatakan bahwa keterangan lokasi kejadian yang dicantumkan pelapor tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
“Pada tanggal 17 Desember 2025 tepat pukul 18.00 WIB, kami tidak berada di jalan seperti yang dilaporkan. Justru saya dan putri saya disekap di rumah kontrakan kami yang beralamat di Jalan Sidikalang–Medan, Sitinjo. Saat itu Puspa Dewi Pasi bersama Lilis Kudadiri dan Pungut Kudadiri datang ke rumah saya, membuat kerusakan, dan melakukan penganiayaan terhadap kami,” ungkap Syahdan.
Ia juga menegaskan bahwa sama sekali tidak ada keributan di Jalan Sidikalang–Medan sebagaimana disebutkan dalam laporan. Anehnya lagi, kata Syahdan, pelapor tidak memberikan titik koordinat atau penjelasan rinci mengenai lokasi kejadian yang dituduhkan.
Meski merasa dirugikan oleh laporan tersebut, Syahdan Sagala menyatakan akan tetap menghadiri undangan Polres Dairi pada Selasa, 7 Januari 2026 untuk menyampaikan keterangan sesuai dengan fakta lapangan.
Perbedaan mencolok antara isi laporan dan pengakuan terlapor ini memunculkan dugaan kuat bahwa laporan yang dibuat oleh Puspa Dewi Pasi merupakan laporan palsu.
Situasi tersebut turut menjadi perhatian publik. Media Spirit Revolusi menyatakan akan terus menelusuri perkembangan kasus ini secara mendalam dan independen.
Syahdan Sagala juga secara resmi memohon kepada redaksi Media Spirit Revolusi agar mengawal dan mengungkap kebenaran peristiwa yang dialami dirinya dan putrinya.
“Kami berharap media dapat membantu membuka fakta sebenarnya, karena yang terjadi bukan seperti yang dilaporkan,” tutupnya.
(Pewarta : Baslan Naibaho)



