Derita Warga Desa Paku Alam di Sungai Tabuk: 1.859 Jiwa Terendam Banjir, Bantuan Masih Minim


Banjar, Kalimantan Selatan, Mitra Bhayangkara,my.id - Bencana banjir yang melanda Desa Paku Alam (Alam Roh), Kampung Pejuang (Veteran) Divisi IV ALRI, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kian memprihatinkan. 

Selama lebih dari dua pekan, ratusan rumah warga terendam air, melumpuhkan aktivitas dan mata pencaharian masyarakat.

Berdasarkan data resmi Desa Paku Alam, sebanyak 535 rumah dengan 624 kepala keluarga atau 1.859 jiwa terdampak banjir. Sebaran terdampak meliputi:

RT 001: 224 rumah, 255 KK, 741 jiwa

RT 002: 106 rumah, 132 KK, 377 jiwa

RT 003: 205 rumah, 237 KK, 741 jiwa

Ketinggian air di wilayah desa mencapai sekitar 50 sentimeter di jalan dan 40 hingga 60 sentimeter di dalam rumah, memaksa warga bertahan dalam kondisi serba terbatas.

Bantuan Masih Sangat Terbatas

Selama 15 hari terdampak banjir, bantuan yang diterima warga dinilai masih jauh dari mencukupi. 

Dari dapur umum posko kecamatan, warga hanya menerima nasi bungkus, sementara dari relawan setiap keluarga hanya memperoleh tiga bungkus mi instan dan dua gelas air mineral.

Kepala Desa Paku Alam, Sapi’e, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi warganya yang belum mendapatkan bantuan merata.

“Alhamdulillah ada bantuan dari Pondok Pesantren Darul Hijrah, tapi itu hanya RT 02 saja yang kebagian. RT 01 dan RT 03 sampai sekarang belum menerima apa pun,” ujar Sapi’e.

Ia menambahkan bahwa bantuan yang datang sejauh ini memang belum memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar seluruh warga.

“Bantuan kemarin kami rasa masih belum cukup. Dari BPBD memang ada mi instan 15 dus, tapi saya tidak berani langsung membagi karena jumlahnya masih jauh dari cukup untuk semua warga. Jadi sementara kami kumpulkan dulu, kalau sudah mencukupi baru kami bagikan secara merata,” jelasnya.

Kebutuhan Mendesak Warga

Menurut Sapi’e, warga saat ini sangat membutuhkan bantuan bahan pokok dan obat-obatan.


“Yang paling dibutuhkan warga sekarang itu beras, gula, teh, kopi, ikan sarden, telur, minyak goreng, mi instan, roti, serta obat-obatan. Itu kebutuhan paling mendesak,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pihak desa masih terus berupaya mencari tambahan bantuan dari berbagai pihak.

“Kami masih terus berusaha mencarikan tambahan sembako untuk warga. Kami berharap ada perhatian dan bantuan yang lebih besar dari relawan, pemerintah provinsi, maupun Pemerintah Kabupaten Banjar,” katanya.


Dengan suara lirih penuh harap, Sapi’e menyampaikan permohonan mewakili seluruh warganya.

“Sebagai kepala desa, ulun mohon tolong dibantu masyarakat kami. Semua warga di sini kehilangan mata pencaharian karena banjir. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mengharap uluran tangan dari pemerintah dan para dermawan,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa selama bencana ini berlangsung, desanya belum pernah mendapat kunjungan langsung dari pemerintah daerah.

“Selama ini Desa Paku Alam tidak pernah ditinjau atau dijenguk, baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Bantuan paket sembako kami hanya mendengar dari jauh, sementara yang banyak dapat itu desa-desa yang akses jalannya mudah. Kami ini di pelosok, jauh dari perkotaan,” keluh Sapi’e.

Namun demikian, ia tetap berharap dan berdoa agar kondisi segera membaik.

“Mudah-mudahan air segera surut dan masyarakat kami diberi kesabaran serta kesehatan. Mudahan semua pihak tergerak hatinya untuk membantu Desa Paku Alam,” pungkasnya.

Banjir yang melanda Desa Paku Alam bukan hanya merendam rumah, tetapi juga merendam harapan ribuan warganya. 

Kini mereka menanti uluran tangan nyata dari pemerintah dan para dermawan agar dapat bertahan dan bangkit kembali dari bencana ini.

(Mubarak/DW)

Post a Comment

Selamat Datang

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1