Balikpapan, Kalimantan Timur, Mitra Bhayangkara, My. Id - Ketua Harian Laskar Kebangkitan Kutai (LKK) MPW Kota Balikpapan, Ferdi Sinau, SE., Cps, menyatakan sikap tegas terhadap polemik sebuah acara yang dinilai bermasalah dan mencederai marwah adat serta kehormatan Kesultanan Kutai Kartanegara. LKK menilai persoalan ini tidak bisa dianggap sepele dan harus segera diklarifikasi secara terbuka oleh pihak-pihak terkait.
Dalam waktu dekat, LKK (Laskar Kebangkitan Kutai) Kota Balikpapan berencana mendatangi pihak Pertamina serta DPRD Kalimantan Timur untuk menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP). RDP tersebut bertujuan untuk meminta penjelasan resmi sekaligus klarifikasi menyeluruh terkait pelaksanaan acara yang menuai kontroversi tersebut.
“Kami menuntut adanya kejelasan dan tanggung jawab. Acara ini tidak hanya soal teknis penyelenggaraan, tetapi menyangkut nilai, etika, dan penghormatan terhadap simbol adat dan budaya,” tegas Ferdi.
LKK juga secara khusus menuntut permintaan maaf resmi dari pihak penyelenggara acara kepada Baginda Sultan Kutai Kartanegara, Drs. H. Adji Muhamad Arifin, M.Si.
Menurut LKK, permintaan maaf tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral yang tidak bisa ditawar, mengingat posisi Sultan sebagai simbol adat, budaya, dan sejarah masyarakat Kutai.
Ferdi menegaskan, apabila tidak ada respons serius, klarifikasi terbuka, maupun itikad baik dari pihak-pihak terkait, maka LKK tidak akan tinggal diam.
“Jika tidak ada tanggapan, kami pastikan akan turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi ini. Ini bukan ancaman, tetapi bentuk tanggung jawab kami sebagai bagian dari masyarakat sipil yang peduli terhadap keadilan dan penghormatan adat,” ujarnya.
Langkah ini, lanjut Ferdi, merupakan wujud komitmen LKK dalam mengawal nilai-nilai budaya lokal agar tidak dikorbankan oleh kepentingan seremonial, politik, maupun korporasi. Ia menegaskan bahwa pembangunan dan kegiatan apa pun di Kalimantan Timur harus tetap menjunjung tinggi kearifan lokal dan etika sosial. (Mubarak)
